Loading
 
 
 
Setoran Pajak Naik, Shortfall Tetap Besar 
Dirjen Pajak Baru Harus Satu Visi Tapi Tak Ketergantungan 
Kadin Usul Hapus PPN agar Daya Beli Naik, Ini Kata Sri Mulyani 
PPnBM kendaraan bermotor akan jadi cukai? 
Ditjen Pajak Tetapkan Nilai Harta yang Bisa Dilaporkan Dalam SPT 
Tak Persoalkan Pajak, Anies akan Tutup Tempat Hiburan Bermasalah 
Darmin: Ditjen Pajak Nggak Panik, Tapi Memanfaatkan Data Tax Amnesty Saja 
Perlu kejelasan pajak 
Presiden Jokowi terlalu ambisius? 
AMANKAN PENERIMAAN: Pemerintah Potong Pajak Belanja Pemerintah Di Awal 
 
 
News
www.pemeriksaanpajak.com, 15-Agustus-2017
 
 

Catatan BPS, konsumsi leisure tumbuh 6,3%

Belakangan muncul perdebatan soal melemahnya ekonomi. Di satu sisi, ada yang mengatakan ekonomi tengah lesu karena daya beli turun. Di sisi lainnya, ada yang mengatakan ekonomi tidak mengecewakan karena konsumsi masyarakat masih baik.

 

Belakangan muncul perdebatan soal melemahnya ekonomi. Di satu sisi, ada yang mengatakan ekonomi tengah lesu karena daya beli turun. Di sisi lainnya, ada yang mengatakan ekonomi tidak mengecewakan karena konsumsi masyarakat masih baik.



Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, konsumsi rumah tangga di kuartal II lalu yang tercatat tumbuh 4,95% yoy, sedikit lebih tinggi dari kuartal pertama bukan menandakan adanya pelemahan daya beli.



Menurut dia, belakangan ini tren konsumsi mengalami peralihan. Peralihan konsumsi dapat dilihat dari belanja kebutuhan non leisure menjadi belanja yang mengisi kegiatan waktu luang atau (leisure activities).



“Kita terlalu banyak perhatikan di indeks ritel, barang. Padahal ada yang lain. Yang semakin berkembang, yaitu kelas menengah atas mulai melakukan kegiatan yang sifatnya lebih bersenang-senang,” ucapnya dalam seminar Nasional “Apakah Perekonomian Indonesia Melambat?” di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Senin, (14/8).



Hal ini terkonfirmasi dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik, Sri Soelistyowati mengatakan bahwa ada pertumbuhan yang lebih tinggi di level konsumsi untuk leisure activities.



Menurut dia, pertumbuhan konsumsi secara tahunan (yoy) untuk komponen leisure dan non-leisure cenderung berbanding terbalik. Konsumsi leisure melonjak ketika ada sedikit pelambatan di non-leisure.



“Pertumbuhan komponen rekreasi lebih tinggi. Dari data yang kami ambil, membuktikan terjadi shifting, jadi orang Indonesia tidak perlu sering-sering ganti mobil tapi rekreasi,” ucapnya.



BPS mencatat, komponen leisure pada kuartal IV 2016 tumbuh sekitar 5,1%. Sementara kuartal II 2017 tumbuhnya 6,3%. Di sisi lain, komponen non-leisure pada kuartal IV 2015 tumbuh 5%. Sementara di kuartal II 2017 4,3%.



BPS menggolongkan komponen yang termasuk dalam leisure activities yakni hotel, restoran, tempat rekreasi, dan kegiatan kebudayaan.



Sumber : www.pemeriksaanpajak.com



http://www.pemeriksaanpajak.com



pajak@pemeriksaanpajak.com

 
Print This Article | Send This Article
     
 
  Copyrights (c) 2000-2011 OMNI SUKSES UTAMA All Rights Reserved. Disclaimer.